Satu-satunya Sekolah yang Masih Meneladani Cara Kartini Mendidik Siswa

wartarembang.com – SMA Kartini Rembang. Sekolah ini tidak hanya menarik secara fisik. Bangunannya masih mempertahankan keasliannya yaitu berarsitektur indis. Tidak hanya itu, di sekolah ini terdapat ekstrakulikuler menjahit dan membatik yang masih mengikuti cara Raden Ajeng Kartini mendidik siswa.

Mayoritas siswa disini adalah keluarga tidak mampu. Sehingga sekolah merasa sangat penting mereka bisa belajar meskipun tanpa biaya. Maka dari itulah, pihak sekolah menggratiskan semua siswanya tanpa membayar spp.

Sementara siswa SMA Kartini selalu mendapatkan stereotype buruk di masyarakat. Seperti siswanya nakal nakal dan suka bolos. Padahal kenyataannya siswa SMA Kartini tidak melakukan hal tersebut.

Siswa SMA Kartini sedang melangsungkan kegiatan ekstrakulikuler menjahit (doc. SMA Kartini, 2018)

Menepis stereotype tersebut, Danang Pamungkan, Guru Sosiologi SMA Kartini berpandangan demikian. “Remaja yang nakal itu wajar, namun saya rasa siswa SMA Kartini kreatif dan punya ide banyak. Mereka punya prestasi yang tidak pernah dilihat masyarakat luas”, ujar Danang. Dan yang perlu diketahui, SMA Kartini selalu menampilkan kenyataan yang baik, sehingga tidak adil kalau sekolah ini mendapatkan stereotype buruk itu,” pungkas Danang.

Hal senada juga disampaikan kepala sekolah Ida Khoiriyah, bahwa para siswa SMA Kartini telah memiliki kreatifitas dan ide kreatif yang tidak kalah dengan SMA Favorit dan negeri di Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat keikutsertaan siswa SMA Kartini dalam Lomba Debat Parlemen Autralia yang diselenggarakan di SMA 3 Semarang. Dalam lomba debat partelemen tersebut, siswa SMA Kartini melawan SMA Taruna, dimana SMA Kartini dapat peringkat 15 dan 20 dari 30 peserta.

“Masyarakat setidaknya tahu bahwa didalamnya seperti apa, jangan hanya buat stereotipe, harus tahu di dalam. Apalagi di dalam kami sudah melakukan banyak hal. Bahkan kami siap memproses siswa kami dengan standar prosedur yang ketat.

jika langkah terakhir mengembalikan “ke” orang tua siswa tetap kami lakukan, meskipun sekolah kami kekurangan siswa. Tujuan kami agar tdk menjadi racun yg membuat siswa lain terkontaminasi dg tindakan/tingkah laku siswa yg sudah tidak bisa di didik atau bahkan tdk mau di didik,” tegas Ida Khoiriyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *