Relasi Tradisi dan Ekonomi Pabrik Gula Merah di Rembang Saat Ini

wartarembang.com – Berdasarkan data yang ada, rembang memiliki 54 pabrik gula merah. Sehingga Rembang juga dikenal selaku daerah sentra produksi gula merah di provinsi Jawa Tengah. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini pabrik gula merah di kawasan Rembang relatif berkurang.

Di pagi yang cerah, kami melihat langsung cara membuat gula tebu. Kali ini kami mengunjungi pabrik gula tebu di desa Tempaling kecamatan Pamotan kabupaten Rembang. Kunjungan kali ini kami fokuskan pada pengamatan tentang tahapan pembuatan gula merah. Selain itu, kami juga menghubungkan hal-hal apa saja yang berhubungan dengan gula merah. Sehingga, menurut hemat kami, temuan ini akan menjadi prediksi dan rekomendasi terhadap keberadaan pabrik gula merah itu sendiri, termasuk didalamnya adalah eksistensi petani tebu itu sendiri.

Ada empat tahap dalam membuat gula merah dari air tebu. Pertama, pengilingan batang tebu. tahap pertama ini adalah tahab memisahkan air sari tebu datau nira dari batang tebu. Proses mekanik ini dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling tebu. Dahulu, proses pemisahan nira dari rendemen tebu ini dari alat penggilingan tradisional, yaitu menggunakan tenaga ternak yaitu hewan kerbau. Proses memeras air dari batang tebu menggunakan gilingan tebu dengan bantuan kerbau dan juga bisa dengan menggunakan sapi, dengan cara kerbau memutari alat beroda yang fungsinya untuk menggiling dengan mata ditutup. Namun sekarang, di desa Tempaling ini, proses penggilingannya sudah menggunakan mesin penggiling.

Tahap kedua, nira sari tebu yang sudah terkumpul ini kemudian di panaskan pada bejana besar. Rendemen batang tebu yang bagus, biasanya menghasilkan sari gula yang cukup kental dan jika dimasak akan mengental dengan cepat. Tahapan ini berfungsi untuk memisahkan nira dari sampah sari tebu menjadi sari gula murni. Proses penggodokannya ini menggunakan pawon bara api dari hasil batang perasan dan daun tebu yang sudang mengering. Jadi bara api yang digunakan untuk memasak bukan dari kayu apalagi gas LGP, tetapi menggunakan sampah gilingan tebu itu sendiri.

Untuk mengendalikan asap pabrik gula merah tebu ini, para perajin gula tebu biasanya membuat cerobong khusus agar asapnya tidak mengganggu warga sekitar. Cerobong asap pabrik tebu ini biasanya dibuat dari bahan batu bata yang ditata sedemian rupa menyerupai cerobong kostin.

Selanjutnya tahap ketiga ada adalah proses pematangan gula tebu yang awalnya berwarna cair kusam hingga menjadi cair kuning kecoklatan. Dengan bara yang cukup panas, sampah sari tebu akan benar-benar terpisah. Dengan diaduk terus menerus dan dikasih bara api yang stabil, lama kelamaan cairan sari tersebut hingga mengental berwarna merah. Proses pemasakannya butuh waktu tiga jam atau bisa lebih.

Dan tahap terakhir, ketika dirasa sudah cukup mengental dengan warna kemerahan, adukan sari gula merah cair ini dipindah sedikit demi sedikit ke bejana pencetakan. Gula merah yang sudah jadi tersebut dapat dikemas sedemikian rupa untuk untuk dijual ke pabrik untuk bahan kecap, dan ada juga yang dijual di pasar untuk mencukupi kebutuhan masak hingga membuat makanna dan jajanan khas.

Gula tebu yang sudah jadi, dapat digunakan untuk bahan pemanis masakan. Rasa gula tebu cukup kuat dan oriental disbanding macam gula lainnya. Masakan kuliner yang membutuhkan gula merah dari tebu adalah bubur abang. Bubur abang adalah jenis kuliner bubur khas dari beras yang dicampur dengan gula merah dan santan kelapa muda. Bubur abang inilah yang bisanya disuguhkan pada saat hajatan weton bayi (ulang tahun anak). Dengan citarasa yang khas, bubur abang ini biasanya menjadi sajian khas untuk anak-anak agar tidak terjangkit penyakit anemia.

Gula merah juga dijadikan bahan khas utama dalam membuat jajanan khas seperti jenang, madumongso/ dodol, klepon, wajik, hingga bolu. Untuk masyarakat Rembang, gula merah ini biasanya digunakan untuk membuat jajanan jenang, klepon,wajik, madumongso atau sejenis dodol lainnya yang biasanya dibuat menjelang acara hajatan hitanan hingga pernikahan. Jajanan ini juga kerap dibuat pada saat menjelang hari raya besar untuk suguhan istimewa.

Selain untuk bahan khas membuat jajanan tersebut di atas, gula merah juga digunakan untuk bahan membuat aneka minuman tradisional. Beberapa aneka minuman khas tersebut adalah es cendol, wedang jahe, wedang ronde, wedang tape, es cao, hingga es cincau.

Produksi gula merah di desa Tempaling dan sekitarnya ini biasanya dilakukan pada bulan Agustus. Selain pada bulan ini adalah bulan panen potong tebu dari kebun, juga pada bulan ini banyak kegiatan tradisi sedekah bumi yang suguhan jajanannya memerlukan gula merah. Jajanan populer sedekah bumi di desa Tempaling dan desa sekitar Rembang ini tidak lain adalah dumbek.

Keberadaan parik gula tebu di Desa Tempaling ternyata tidak berdiri sendiri. Keberaan pabrik gula murah ini ternyata memiliki hubungan dengan prilaku tradisi dan aneka suguhan kuliner, minum, hingga jajanan khas di desa Tempaling dan juga masyarakat Rembang. Keberadaannya sungguh sangat penting. Selain juga menjadi bermanfaat untuk lapangan kerja masyarakat desa setempat, selain juga menjadi jenis mata pencaharian masyarakat berkebun tebu, keberadaan pabrik gula merah ini sangat berhubungan dengan identitas kuliner, minuman, dan jajanan khas desa Tempaling dan masyarakat Rembang. Terlebih juga gula merah menjadi bahan untuk membuat pabrikan kecap industri.

Menurut kami, berdasarkan hasil kunjungan tersebut di atas, keberadaan pabrik gula merah sangat kuat berhubungan dengan aspek tradisi dan ekonomi. Dua aspek sosial inilah yang kemungkinan akan memperkuat bahwa keberadaan gula merah di Rembang tetap akan eksis dikemudian hari. Hanya saja perlu sentuhan empati dan keberpihakan kebijakan yang mumpuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *