Ratusan Pelajar Pamotan Rembang Beserta Guru, Belajar dengan Samin Blora

Blora-Ratusan pelajar jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dari SMAN 1 Pamotan beserta guru (MGMP) mata pelajaran IPS Kabupaten Rembang melakukan study lapangan di sedulur Sikep Samin Blora, Kamis (20/9) mulai pukul 08.00 hingga pukul 16.30 WIB. Dengan menggunakan 6 bus besar dan 1 kendaraan Elf mereka berangkat ke Blora untuk belajar langsung dengan masyarakat Samin. Kegiatan outdoor study mata pelajaran IPS ini dilaksanakan di Dukuh Jasem, Desa Jepangrejo, Kecamatan Blora Kota dan Dukuh Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.

“Kegiatan ini adalah kegiatan outdoor study. Sebenarnya adalah kegiatan biasa, pembelajaran biasa, sesuai kompetensi dasar, sesuai silabus, sesuai kurikulum, cuma beda tempat. Biasanya tempatnya kan di sekolah, kita saat ini langsung mengunjungi sumber belajarnya langsung yaitu masyarakat,” kata Suhadi, M.Pd salah seorang guru mata pelajaran Sosiologi di SMA N 1 Pamotan.

Kunjungi Lapangan secara natural dilakukan siswa siswi SMAN 1 Pamotan di Komunitas Warga Samin Blora (dok: Komunitas Jelajah Blora, 2018)

Menurutnya, Samin selama ini tidak pernah dieksplore secara adil. Padahal banyak hasil penelitian yang menegaskan bahwa masyarakat Samin punya kearifan sosial yang luar biasa.

“Selama ini stigma masyarakat yang cenderung ke arah negatif bahwa masyarakat samin cenderung ngeyel, tidak mau membayar pajak, dan lain sebagainya. Padahal di dalamnya sesuai perbincangan tadi sewaktu kita belajar di sana, banyak kearifan sosial yang bisa digunakan untuk membangun Indonesia dan membangun karakter bangsa,” ungkap pengajar kelahiran Rembang, 3 April 1982 ini.

Saat sesi tanya jawab dengan para pelajar, Mbah Supardji (68) sesepuh Dukuh Jasem Desa Jepangrejo mengatakan bahwa dulu orang Samin tidak mau membayar pajak, karena merasa kalau Belanda itu pendatang.

“Tamu kok mengatur yang punya rumah.Jadinya orang Samin gak mau. Ini sawah saya sendiri, ini negara saya sendiri. Mengapa orang Belanda menyuruh saya membayar pajak, Akhirnya gak mau bayar pajak. Itu alasannya. Ini salah satu cara untuk melawan kolonial Belanda,” tutur Mbah Supardji (68) sesepuh sedulur Sikep Dukuh Jasem Desa Jepangrejo dengan bahasa Jawa yang fasih.

Selain siswa siswi, MGMP Guru Sosiologi Kabupaten Rembang juga turut serta dalam Kunjungan Lapangan kali ini (dok: Komunikasi Jelajah Blora, 2018)

Tak tanggung-tanggung, para pelajar yang ikut sejumlah 333 orang. Terdiri dari kelas X IPS sejumlah 177 orang, dan siswa kelas XI IPS sejumlah 156 orang. Kegiatan tersebut akan didampingi oleh Bapak Ibu Guru berdasar latar belakang disiplin ilmu pengetahuan yang sesuai.

“Di antaranya Guru Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, dan mapel pendukung yaitu PKn, Agama, PKn, Seni, Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa,” kata Suhadi, M.Pd salah seorang guru mata pelajaran Sosiologi di SMA N 1 Pamotan.

Menurut Suhadi, tradisi orang timur adalah saling kunjung-mengunjungi. Bukan merasa rendah apalagi direndahkan. Biasanya yang merasa yang lebih muda, berkunjung kepada yang lebih tua, atau sebaliknya, adalah hal yang biasa.

“Tradisi seperti ini kan sebetulnya modal sosial budaya yang dimiliki masyarakat kita,”

Dirinya melihat, sedikitnya ada tiga daya tarik dari sebuah tradisi kunjungan. Pertama, dapat berfungsi merawat kerukunan masyarakat. Kedua, dapat berfungsi meningkatkan dinamika perekonomian masyarakat. Dan ketiga, dapat berfungsi untuk mendapatkan data sosial yang benar.

“Bahkan jauh dari pada itu, Mas, tradisi saling berkunjung dapat difungsikan untuk metode pembelajaran dalam dunia pendidikan,” ungkap bapak dengan dua orang anak yang berdomisili di Komunitas Rumah Baca Dukuh Palan Pamotan Rembang ini.

Lanjut Suhadi, tradisi kunjungan merupakan alternatif metode pembelajaran, karena fenomena alam dan sosial adalah sumber dari kajian pengetahuan. Bahkan tradisi kunjungan dapat menjadi metode pembelajaran yang terbarukan.

“Iya, karena setiap proses kunjungan selalu bersinggungan dengan pembaruan data fenomena alam dan sosial. Keberadaan pengetahuan formal ini akan selalu dikroscek kebenarannya,” terang pengajar lulusan S1 Pendidikan Sosiologi dan Antropologi dan S2 Pendidikan IPS Universitas Negeri Semarang ini.

Dengan bertema membangun manusia Indonesia dengan kearifan sosial masyarakat sedulur Sikep yang bertujuan untuk mengindentifikasi kearifan sosial masyarakatnya, dirinya berharap kegiatan study lapangan ini bisa mendapatkan format dan strategi dalam perspektif pengetahuan ilmu sosial. Seperti yang ditemukan juga dalam masyarakat Samin Sikep Dukuh Karangpace Desa Klopodhuwur Kecamatan Banjarejo di mana ajarannya yang diutamakan adalah tentang kerukunan.

Rombongan juga melakukan kunjungan lapangan ke Perpustakaan Pranowo Ananta Toer (Pataba) yang dikelola langsung oleh Soesilo Toer, P.hd (dok: Komunitas Jelajah Blora, 2018)

“Iya, ajaran-ajaran dan kearifan sosial masyarakat Samin di Blora ini sangat menarik. Dengan pola hidup kesederhanaan, kejujuran, yang mengutamakan saling hormat- menghormati dengan penuh kerukunan,” beber Suhadi penuh apresiasi.

Terpisah, Danang Pamungkas, S.Pd seorang guru pengajar mata pelajaran Sosiologi di SMA Kartini Rembang yang akan bersama 14 guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sosiologi lainnya turut serta dalam kegiatan study lapangan ini menyatakan bahwa metode pembelajaran yang dipakai menggunakan project-based learning yaitu model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks.

“Metode ini berfokus pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dari suatu disiplin keilmuan, Mas. Intinya bagaimana melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya, seperti memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka sendiri. Puncaknya para siswa bisa menghasilkan produk karya yang bernilai dan realistik,” ujar pengajar kelahiran Rembang, 2 Desember 1994 ini.

Rencananya, untuk tahap evaluasi, hasil dari produk kegiatan study lapangan ini akan digunakan untuk bahan penilaian dari mata pelajaran Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Sejarah, PKn, Bahasa Jawa, Seni dan Budaya, dan mapel Bahasa Indonesia dengan kekhasan penilaian mapel masing-masing.

“Nah, untuk tahap tindak lanjutnya, setiap peserta didik nantinya diwajibkan menghasilkan produk karya ilmiah sosial yang akan dipublikasikan di perpustakaan dan di website kunjungan lapangan. Dengan tindaklanjut publikasi tersebut, diharapkan hasil dari kegiatan outdoor study Mapel IPS ini dapat bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan sosial, serta bermanfaat untuk rujukan dalam menyusun strategi pemberdayaan sosial tematik kearifan lokal,” terang guru lulusan S1 Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta.

Saat disinggung kenapa belajarnya ke sedulur Sikep, menurut Danang, hal menarik dari kearifan sosial kelompok sosial sedulur Sikep adalah karena masyarakat tersebut memiliki rangkaian tujuan hidup yang harmoni yang dilengkapi perangkat antibodi yang mumpuni.

“Seperti tiga buah video wawancara Mbah Pardji Jasem yang ada di youtube yang sekarang jadi materi dasar dari study lapangan ini. Itu luar biasa, lho. Tak dipungkiri bahwa kelompok sosial sedulur Sikep memiliki kearifan sosial yang dapat kita gunakan untuk strategi membangun manusia Indonesia,” pungkasnya.

Selain di sedulur Sikep Jasem Jepangrejo dan Karangpace Klopodhuwur, rombongan yang didampingi Komunitas Jelajah Blora sore itu singgah di Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) Desa Jetis Kec/Kab. Blora. Ditemui langsung oleh Soesilo Toer (82) seorang adik Pramoedya Ananta Toer yang mempunyai gelar Doktor lulusan Rusia.

“Ini kok sebagian besar pelajarnya perempuan ya. Tapi jangan khawatir. Bahwa tidak ada revolusi yang berhasil tanpa peranan seorang wanita,” pungkas Soesilo Toer yang langsung diikuti oleh tepukan tangan yang meriah dari siswi-siswi SMA N 1 Pamotan.

Sayang, untuk potensi kearifan sosial di Blora yang luar biasa ini belum ada tempat parkir bus yang memadai. Sehingga, ketika jarak perjalanan kaki cukup jauh, menjadikan peserta outdoor study kelelahan, bahkan di antaranya mengalami pingsan. [Eko Arifianto/2018]

Caption:

1. Peserta outdoor study saat di rumah Mbah Pardji Jasem Jepangrejo Blora.
2. Siswa-siswi SMA N 1 Pamotan saat bersama Mbah Lasiyo di Pendopo Samin Sikep Karangpace Klopodhuwur.
3. Peserta study saat mendengarkan cerita Pak Soesilo Toer di PATABA Blora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *