Mimpi Besar Ahmad Harnoto Terus Lestarikan Batik Tulis

Wartarembang.com-Mendirikan sebuah usaha yang beresiko bukanlah sebuah keputusan yang mudah untuk diambil, apalagi ditambah dengan modal yang besar diambil dari awal medirikan usaha tersebut. Seperti halnya Ahmad Harnoto, seorang yang bertekad besar dan memilki jiwa usaha yang tinggi. Ia adalah sosok yang yang berani mengambil resiko cukup besar dalam mendirikan sebuah usaha.

Batik, adalah usaha yang didirikan Ahmad Harnoto sudah sekitar 4 tahun di Dukuh Palan, Pamotan, Rembang. Belum besar usaha yang didirikannya itu, Karena memang memulai dari nol dari bawah ia memulai usahanya. Saat sebelum memulai usaha batik, Harnoto aktif di dunia  online shop. Pekerjaannya mendistribusikan barang, termasuk kain batik yang diambil dari pengusaha batik milik rekannya.

Dari pengalaman itu, Ahmad Harnoto memperoleh kesimpulan, jika hanya dengan usaha online shop ia hanya bisa mengambil keuntungan yang tidak begitu banyak. Akhirnya dengan tekad bulat ia memberanikan diri untuk memulai usaha produksi kerajinan batik sendiri yang dinamai “Rumah Batik Tulis”. Hanya dengan modal Rp 10.000.000 usaha itu ia dirikan.

Saat ditanya apa motivasi mendirikan usaha batik, jawaban Ahmad Harnoto yang diutarakan cukup istimewa. “Saya hanya ingin melestarikan budaya batik Indonesia. Bukan untuk mengejar target materi saja, tapi keinginan lebih besar untuk generasi bangsa ini agar mencintai budaya Indonesia yakni Batik,” ujar Ahmad Harnoto.

Keindahan Batik Tulis di “Rumah Batik Tulis” milik Ahmad Harnoto (dok: penulis, 2018)

Karyawan dan Omset

Awal usaha batiknya hanya menerima pesanan saja tapi setelah banyak dikenal oleh masyarakat akhirnya beliau memutuskan untuk memproduksi dalam jumlah yang besar. Ahmad Harnoto awalnya memproduksi batik masih dalam jumlah kecil, karyawan yang bekerjapun belum terlalu banyak. Untuk karyawan sendiri ada dua macam golongan yakni karyawan luar dan karyawan dalam. Dengan jumlah masing-masing kurang lebih 6-7 orang.

Karyawan tadi hanya untuk pemrosesan pada tahap awal kain, seperti menggambar pola pada kain, menyanting dan menutup kain ( ngeblok), untuk proses pewarnaan dan pelorodan hanya dilakukan oleh 2-3 orang saja. Dua karyawan itu adalah Eko dan Heru yang bekerja kurang lebih sudah 6 bulan.

Standar jam kerja di batik Ahmad Harnoto normal seperti di tempat-tempat lainnya, pagi berangkat siang istirahat dan sore pulang. Dengan rincian mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00 WIB jam 12.00 WIB-13.00 WIB istirahat. Gaji karyawanpun masih relatif seperti pekerja pada umumnya tergantung pada pola yang dibuat sesuai daya kreatif masing-masing pekerja.

Jika dihitung dari jenis kain dan pola yang dibuat kalo untuk kasar biasanya  1 kain dihargai Rp 25.000 untuk proses cantingan pertama sedangkan untuk 1 kain halus bisa dihargai Rp 60.000 sampai Rp 100.000 untuk satu kali canting padahal untuk menghasilkan batik yang halus biasanya membutuhkan 3 sampai 4 penyantingan.  Sedangkan omset tiap bulan, usaha batik Ahmad Harnoto kurang lebih Rp 5.000.000 hingga Rp 10.000.000. Jika dihitung dari modal yang dikeluarkan untuk blanja kain mori senilai Rp 15.000.000 maka masih membutuhkan Rp 40.000.000 sampai 45.000.000 untuk menyelesaikan proses sampai jadi batik artinya perbandingan bahan baku dan proses pembuatan adalah satu banding tiga.

Motif Batik 

Jika dilihat dari motifnya, batik milik Ahmad Harnoto yang dinamai Rumah Batik Tulis ini ada berbagai macam motif. Antara lain seperti aseman, bunga seruni, latohan, beras tumpah namun kurang lebih motif masih sama seperti batik Lasem pada umumnya.

Aneka Motif batik tulis yang diproduksi Ahmad Harnoto di Rumah Batik Tulis (dok: penulis, 2018)

Distribusi Batik Kepuasan Pelanggan

Pendistribusian batik milik Ahmad Harnoto telah menembus luar kota. Ia biasanya juga melalui media online seperti yang dilakukannya dulu. Harga yang diberikan sesuai dengan kerumitan motif dan kualitas kainnya. Harga yang ditentukan yakni dari mulai Rp 100.000 sampai Rp 3.000.000.

Saat ditanya membuka cabang Ahmad Harnoto masih berpikir ulang karena beberapa kendala yang dialami seperti pencarian tempat yang strategis. Admad Harnoto sebenarnya ingin memperluas tempat produksi dan ingin mewujudkan impiannya membuka cabang yang baru. Karena tujuan awal dari sebuah usaha yang didirikannya sendiri adalah untuk memperoleh kepuasan pelanggan dan pelestarian batik itu sendiri agar generasi muda tetap kenal dan mencintai budaya nusantara.

Ahmad Harnoto ingin selalu memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Ia sendiri memberikan garansi untuk setiap pelayanan yang kurang sesuai dengan kebutuhan konsumen, namun untuk garansi syarat yang ditentukan adalah kembali barang bukan kembali uang. Konsumen atau langganannya sendiri kurang lebih ada 25% dari lokal dan 75% dari luar Rembang.

Saat produksi batik dalam jumlah banyak (dok: penulis, 2018)

Pengelolaan Limbah dan Mimpi Pelestarian 

Usaha batik tentunya tidak lepas dari limbah. Terutama limbah pewarna.  Pewarna setelah selesai digunakan dapat berupa ampas yang berwarna kecoklatan. Adapula limbah untuk pengunci warna dan masih banyak lagi limbah yang dihasilkan.

Bahaya limbah yang dihasilkan tidaklah terlalu berbahaya karena tidak mengandung unsur yang mematikan. Bahan yang digunakan untuk bahan penunjang batik harus terdapat garam warna, itulah sebabnya mengapa setelah digunakan limbah itu akan berupa ampas. Dapat kita ambil contoh sebagai bahan pewarna kain batik yaitu hitam B, Biru, dan masih banyak lagi. Selain itu juga ada soda api ( kustik) yang fungsinya yaitu untuk melarutkan dan air panas.

Ahmad Harnoto mengecek sendiri hasil batiknya saat dijemur dok: penulis, 2018)

Untuk pengukuran 1 kain bahan yang dibutuhkan sesuai takaran yaitu 10 gram sampai 20 gram. Ada yang sangat berpengaruh pada proses pewarnaan kain itu sendiri adalah soda api (kutsik), karena jika bahan ini terlalu berlebihan kualitas akan rusak atau tidak sesuai harapan.

Untuk pengolahan limbah kembali belum bisa dilakukan karena tempatnya kurang mendukung, namun untuk pembuangan telah ada tempat khusus yang kerap kita sebut yaitu sapiteng. Tempat pembuangan limbah sendiri kurang lebih berukuran 2 meter persegi. Harapan Ahmad Harnoto limbah tersebut dapat diolah kembali menjadi air bersih. Itu satu mimpi yang ingin ia kembangkan agar kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Namun yang pasti harapan utama yang ingin dicapai oleh Ahmad Harnoto dengan Rumah Batik Tulis-nya yakni anak-anak generasi muda agar mempunyai keterampilan dalam membatik agar budaya membatik tidak akan luntur di kalangan remaja. Begitu besar harapan Ahmad Harnoto dan tentu saja kita semua, semoga apa yang ingin dituju dan diinginkan dalam produksi batik dan pelestarian batik sebagai warisan leluhur nusantara dapat berjalan terus selamanya.

Penulis:

  • Nugrahaeni Kresna Murti, siswi kelas XI di SMAN 1 Pamotan yang mempunyai hobi menulis. Ia beralamatkan di Sridadi RT 03 RW 13 Pamotan.
  • Arnetta Susma Widiyanti, siswi kelas XI di SMA N 1 Pamotan yang hobinya rumus-rumus statistik. Ia bertemoat tinggal di Kanoman RT 02 RT 06 Pamotan.
  • Selfia Nur Khoidah, siswi yang kini duduk di kelas XI ini, bersekolah di SMA N 1 Pamotan, mempunyai hobi membaca dan bertempat tinggal di Samaran RT 04 RW 02 Pamotan.

Editor:

Exsan Ali Setyonugroho

Foto ketiga penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *