Laporan Perjalanan Replika Kapal – part 2

Wartarembang.com-Kami dari Tim KIR kelas 10 SMAN 1 PAMOTAN telah melaksanakan kunjungan yang kedua ke Desa Dasun pada hari Selasa, 30 Januari 2018 untuk menindaklanjuti kunjungan pertama kami dalam rangka Penelitian Pembuatan Replikasi Kapal dari bahan limbah di Desa Dasun. Kami akan didampingi oleh Pak Suhadi dan kak Retno. Sayangnya dalam kunjungan tahap kedua ini, senior kami (kak Hasan) tidak dapat ikut karena sedang persiapan untuk menghadapi UNBK yang diadakan beberapa bulan lagi. Pada hari ini limbah yang akan kami gunakan adalah limbah sandal. Sebelum berangkat kami berkumpul di depan pos satpam SMAN 1 PAMOTAN untuk menanti kedatangan guru Pembimbing kami, Pak Suhadi. Sembari menunggu kami menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat replikasi kapal dan mencatat bahan yang belum kami dapatkan.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya Pak Suhadi datang. Setelah siap kami segera berangkat ke Desa Dasun dengan diantar memakai mobil Pak Anwar. Sekitar pukul 09. 05 WIB kami tiba di Balai Desa Dasun. Namun Pak Anwar tidak dapat menemani kami hingga selesai. Beliau punya urusan yang tidak dapat ditinggalkan. Sehingga beliau segera kembali ke SMAN 1 PAMOTAN setelah mengantarkan kami.

Seperti pada kunjungan yang pertama, kami mendapat kunjungan yang sangat hangat pada kunjungan tahap kedua ini. Kami bertemu Pak Sujarwo (Kepala Desa Dasun), Mas Ikhsan, dan perangkat desa Dasun yang lain di Balai Desa Dasun. Kami berada di Balai Desa Dasun hampir 3 jam karena narasumber kami sekaligus pelatih kami, Mas Tri masih melaut dan belum kembali ke rumah. Sambil menunggu kami mengobrol bersama dan membeli barang yang belum kami dapatkan.

Setelah penantian yang cukup lama akhirnya Mas Tri kembali dari perantauannya. Namun, kami mengubah planning yang telah direncanakan. Kami tidak jadi melakukan praktikum di rumah Mas Tri, akan tetapi kami akan melakukannya di rumah Mas Ikhsan. Tepat pukul 12.20 WIB kami menuju rumah Mas Ikhsan dengan membawa peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan replikasi kapal. Setibanya di sana kami langsung dijamu dengan hidangan lezat buatan Ibunya Mas Ikhsan. Kami dijamu dengan salah satu sayur khas Dasun, sayur Merica dengan ikan Bandeng dari Dasun sendiri. Sungguh Dasun memang memiliki potensi SDA yang melimpah disamping keindahan pemandangan alamnya.

Limbah sandal dari sungai Dasun (doc, Retno, 2018)

Setelah makan bersama, kami segera melaksanakan Sholat Dhuhur di Masjid Baitussalam yang tengah mengalami renovasi. Setelah selesai melaksanakan sholat Dhuhur kami segera melaksanakan praktikum. Pak Suhadi sebagai pembimbing kami membagi tugas pada Tim. Gilang bertugas mencatat semua bahan, alat, dan proses pembuatan. Sedangkan Saya dan Maliya menjadi juru kamera. Ini adalah pengalaman pertama saya dan Maliya dalam menyuting sebuah kegiatan menggunakan Kamera. Kami berdua masih masih amatir dalam hal ini. Untungnya ada Pak Suhadi dan Mas Ikhsan yang siap mengajari kami dengan sepenuh hati. Oh iya, dalam urusan pemotretan kami mengandalkan kak Retno yang cukup ahli dalam bidang ini. Dengan pembagian ini tugas kami menjadi lebih ringan.

Pukul 13.30 WIB Mas Tri Murti mulai melakukan pembuatan miniatur kapal. Pertama-tama Beliau membelah semua sandal yang telah dikumpulkan. Satu sandal dipotong secara vertikal menjadi dua bagian, lalu potongan tersebut dipotong lagi secara melintang menjadi 2 bagian. Sehingga satu sandal dapat dipotong menjadi 4 bagian. Gilang yang sedari tadi memperhatikan teknik pemotongan sandal yang dilakukan Mas Tri tidak bisa tinggal diam. Dia akhirnya ikut membantu Mas Tri memotong sandal-sandal tersebut. Setelah sandal-sandal sudah terpotong semua, Mas Tri kemudian memotong papan Randu untuk dibuat Linggi (kepala perahu depan & belakang) dan Lunas (pondasi Perahu). Sedangkan potongan sandal tadi akan dijadikan Gading (Badan Perahu).

Linggi dan Gading replika kapal (doc, Retno, 2018)

Setelah bahan utama penyusun perahu terpotong semua, Mas Tri memulai tahap perakitan. Pertama Beliau memasang Linggi pada lunas menggunakan paku lidi. Teknik pemakuannya sangat rapi dan cekatan. Setelah Linggi terpasang, Beliau membuat Gading perahu. Pembuatan Gading perahu dilakukan dengan penempelan potongan sandal menggunakan paku lidi. Pengerjaan pemasangan gading kapal terlihat rapi. Namun Gading perahu tersebut belum terselesaikan karena jumlah sandal yang masih kurang dan juga karena terbatasnya waktu. Untuk sementara Mas Tri hanya bisa memasang sampai Gading Tengah. Untuk itu pada hari selasa yang akan datang kami akan membawa sandal yang lebih banyak untuk melanjutkan pembuatan Miniatur Perahu tersebut.

Setelah Gilang mengukur bagian-bagian perahu dan mencatatnya kami segera berpamitan pulang karena waktunya sudah terlalu sore. Tapi sebelumnya kami berfoto bersama dengan menunjukkan hasil rancangan replikasi Perahu sebagai bahan pendokumentasian. Setelah selesai kami berpamitan pulang. Kami diantar pulang dengan menggunakan mobil temannya Pak Suhadi. Pertama-tama kami ke Desa Sendangasri untuk mengantar kak Retno ke rumah pamannya. Kami merasa senang karena bisa jalan-jalan terlebih dahulu.

Setelah mengantarkan kak Reto kami melanjutkan perjalanan pulang ke SMA N 1 Pamotan. Setelah berjalan sekitar 20 menit akhirnya kami sampai di sekolah tercinta. Setibanya di sana kami mengambil kendaraan masing-masing yang kami gunakan untuk pergi ke sekolah. Setelah itu kami kembali ke rumah masing-masing. Kami sangat senang dengan kunjungan kami yang kedua ini. Disamping mendapat hasil penelitian, kami juga mendapat tambahan ilmu yang sangat bermanfaat. Kami sudah tidak sabar untuk melaksanakan kunjungan ke Desa Dasun tahap ketiga untuk melanjutkan pembuatan miniatur Perahu yang baru setengah jadi.

Moh Ainun Ni’am- Siswa SMA Negeri 1 Pamotan Kelas X Mipa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *