Laporan Perjalanan Replika Kapal – Part 1

Wartarembang.com-Selasa, 23 Januari 2018 kami tim KIR dari kelas 10 akan melakukan penelitian tentang produksi miniatur kapal di desa Dasun, kecamatan Lasem,  Kabupaten Rembang.  Sebelumnya kami diberi arahan oleh senior kami,  kak Hasan dari kelas 12 yang kebetulan juga memilki komunitas pembuatan miniatur kapal yang dikenal dengan nama “SEKUTER”.  Komunitas ini sudah cukup terkenal di tengah-tengah masyarakat Rembang khususnya di daerah Sale. Bahkan beberapa bulan yang lalu komunitas ini mendapat pesanan untuk mahar pernikahan. Selain itu, komunitas ini juga telah mengikuti pameran di Kabupaten Rembang dan produk hasil karyanya juga mulai dikenal di Semarang. Setelah mendapat arahan dari Kak Hasan akhirnya pembimbing kami Pak Suhadi datang. Beliau mengajak salah seorang muridnya yang baru wisuda dari UNDIP yang kebetulan dulu juga pernah ikut lomba KIR. Beliau bernama kak Retno. Kak Retno terlihat sangat ramah dan sopan. Beliau membagikan pengalaman hidupnya kepada kami, khususnya tentang pengalaman beliau ketika ikut KIR maupun saat beliau masih di kampus. Kak Retno akan ikut mendampingi kami dalam penelitian ke Desa Dasun.

 

Ketika sudah pukul 08. 00 WIB kami bersiap berangkat menuju ke Desa Dasun. Namun, sebelumnya kami pergi ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Setelah melakukan perjalanan sekitar 20 menit akhirnya kami sampai di desa Dasun. Pertama-tama kami pergi ke balai desa Dasun untuk mendapatkan keterangan mengenai karakteristik dari desa Dasun dan sejarah dari desa Dasun. Kami mendapat sambutan yang hangat dari pihak perangkat desa Dasun. Hal ini mungkin karena hubungan SMA 1 PAMOTAN dengan desa Dasun yang sudah terjalin lama. Di sana kami mendapat penjelasan mengenai sejarah dari desa Dasun dari Mas Exsan. Ternyata Dasun dulunya adalah tempat pembuatan dan tempat galangan kapal. Hal ini diyakini sudah terjadi pada masa Kerajaan Majapahit hingga masa penjajahan Jepang. Pada masa pemerintahan Majapahit, Dasun menjadi tempat utama untuk membuat kapal perang kerajaan Majapahit. Pada masa Penjajahan Jepang kapal yang dibuat di Desa Dasun sudah diberi campuran baja. Namun, setelah setelah Indonesia merdeka justru tempat pembuatan dan galangan kapal di Desa Dasun mengalami kemunduran. Bahkan kapal-kapal dibumihanguskan karena dianggap sebagai peninggalan Jepang.Setelah berada di Balai Desa Dasun selama kurang lebih 20 menit akhirnya kepala Desa Dasun Datang. Beliau memberikan gambaran masyarakat di Desa Dasun kepada kami. Beliau juga membagikan pengalamannya ketika masih melaut, menceritakan masalah yang di hadapi nelayan akibat penggunaan pukat harimau, dan keadaan perekonomian nelayan akibat penggunaan pukat harimau tersebut. Kami sangat menikmati penjelasan dari beliau. Setelah kami mendapat penjelasan dari Kepala Desa kami meminta untuk berfoto bersama sebagai bahan pendokumentasian. Setelah berfoto bersama, kami meminta Mas Exsan untuk mengantarkan kami ke rumah Mas Tri (salah satu pembuat miniatur kapal di Desa Dasun yang letaknya dekat dengan Balai Desa Dasun)Sesampainya di rumah Mas Tri, kami bersiap untuk melakukan wawancara. Kebetulan beliau baru saja pulang dari melaut.

 

Pertama-tama kami memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan. Lalu kami menanyai Mas Tri seputar pengalaman beliau dalam membuat miniatur kapal. Menurutnya ada 3 bahan utama yang bisa digunakan untuk membuat miniatur kapal yaitu Bambu, Karet Mas, dan Sandal. Dari ketiga bahan tersebut yang paling mudah dibuat miniatur kapal adalah Karet Mas. Sedangkan yang paling sulit dibuat miniatur kapal adalah Bambu. Untuk membuat 1 produk miniatur kapal diperlukan waktu selama 3 hari. Sedangkan harga jual produk tersebut tergantung pada tingkat kesulitan pembuatan. Apabila model miniatur kapalnya sederhana, harga produk tersebut bisa mencapai Rp 250. 000, 00. Sedangkan untuk model miniatur kapal yang rumit  harganya lebih mahal dari itu. Sayangnya, Mas Tri tidak mengembangkan bakatnya tersebut agar menjadi sebuah profesi khusus. Beliau masih menganggap keahliannya itu sebagai hobi untuk mengisi waktu luang.

 

Setelah mewawancarai Mas Tri, kami memintanya agar mau menunjukkan contoh miniatur kapal hasil ciptaannya. Namun, ternyata beliau sudah tidak punya contoh model miniatur kapal hasil ciptaannya. Untungnya Mas Exsan yang sedari tadi menemani kami mengatakan bahwa beliau punya contoh miniatur kapal hasil ciptaan dari Mas Tri di rumahnya. Kami segera berangkat ke sana setelah berpamitan pada Mas Tri sekeluarga dan berfoto bersama.

Proses wawancara dengan Sujarwo, Kepala Desa Dasun (Dok: Retno, 2018)
Di rumah Mas Exsan, kami langsung bisa melihat miniatur kapal buatan Mas Tri yang terbuat dari Karet Mas. Miniatur tersebut terpajang indah di ruang tamu. Model miniatur tersebut berbentuk sebuah Perahu yang bertuliskan Desa Dasun. Miniatur Perahu tersebut sempat diikutkan dalam pameran beberapa bulan lalu. Kami melihat-lihat miniatur Perahu tersebut dengan seksama sambil menikmati hidangan yang disajikan Mas Exsan. Setelah hampir 30 menit kami berpamitan pulang. Namun sebelum pulang kami berfoto bersama sebagai bahan pendokumentasian.Sekitar pukul 11. 30 WIB kami kembali menuju SMA NEGERI 1 PAMOTAN. Tepat pukul 12. 00 WIB kami sampai di sekolah tercinta kami. Sebelum kembali ke Kelas masing-masing kami berkumpul di Perpustakaan untuk mengevaluasi kegiatan tersebut. Setelah selesai kami segera kembali ke kelas masing-masing dan mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasa.
Penulis:
Moh Ainun Ni’am-Siswa SMA Negeri 1 Pamotan Kelas X Mipa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.