Kampung Nelayan Bonang Tahun 1910

wartarembang.com – Pemukiman Nelayan Bonang sejak dahulu cenderung mendekati bibir laut.  Semakin dekat rumahnya dengan laut, maka para nelayan atau “Wong Mbelah”  itu semakin cepat memulai pekerjaannya saat berlayar mencari ikan. Deretan rumah joglo dan limasan yang gagah itu tepat menghadap laut.

Seakan memangku laut. Mereka cukup hangat dalam berkeluarga. Ketika wong mbelah itu melaut atau “miyang”, maka  anggota keluarganya dengan mudah mengantarkannya sampai sejauh mata memandang. Dan ketika wong belah itu menepi, para anggota keluarganya dengan mudah dan penuh harap dapat membantunya membawakan hasil tangkap ikannya. Suasana nan hangat di kampung nelayan Bonang saat itu.

Rumah dengan latar hamparan langit nan luas, memudahkan wong mbelah dalam menafsirkan tanda-tanda alam. Cahaya, arah mata angin, lembut dan kerasnya ombak, rupa langit, hingga redup dan terangnya formasi bintang, tiada penghalang dalam mengamati tanda-tanda alam. Dari tafsir tanda alam itulah, keputusan kapan nelayan Bonang berlayar dan atau harus istirahat menanti tanda-tanda kemurahan dari alam.

Tata letak pemukiman nelayan Bonang terlihat cukup lekat dengan cara pandang, bahwa manusia hidup harus bersahabat dengan alam. Semakin dekat bangunan rumahnya dengan laut, maka telah menjadi penanda bahwa alam selalu harmoni dengan manusia. Dalam memory ingatannya, seakan laut tidak pernah mengancam kehidupan dan keluarga mereka. Mungkin kala itu, bencana laut tidak pernah terjadi disepanjang pantai Bonang.

Tanaman yang dapat tumbuh sejauh di pantai, disitulah tanda batas aman untuk mendirikan rumahnya. Pandan laut, bakau, dan semacam semak belukar tampak tangguh seakan tiada musuh. Layaknya taman pasir nan hijau di depan rumah kampung nelayan Bonang. Taman pasir nan elok yang setiap harinya selalu memberi ruang pandang yang hakiki. Dan dimalam hari, hambaran taman pasir itu menjadi ruang pengendali dan selalu memastikan keamanan perahu-perahu mereka, dari deru ombak yang mengiring hingga menyingsir fajar.

Deretan pohon kelapa itu tampak jelas memunggungi deretan rumah nelayan Bonang. Tanaman ini tampak alami dalam perkembangbiayakannya. Terlihat bibit-bibit pohon muda itu selalu setia mendampingi yang tua. Nyiur pelepah daunnya tampak halus nan lembut tanpa ada yang menciderainya. Rimbun dan rindang daun kelapanya. Walau diterpa kerasnya angin, daun-daunnya tanpa ada yang putus. Pohon berkulit baja itu senantiasa berdamai dengan alam semesta. Buah nan tebal, sarinya yang mengental, selalu siap untuk dijadikan racikan minyak . Sari kelapa mudanya juga selalu siap diunduh untuk pelepas dahaga seusai melaut.

Deretan pohon bambu juga tampak berderet sejajar disepanjang jalan tembus lahan. Sesekali berkelok, batang bambu berdiameter sedang itu terlihat cukup mudah ditata dan tertata. Selain pohon kepala, bambu adalah tumbuhan pusaka disepanjang pantai, Bonang. Tanaman ini senantiasa dijaga oleh nelayan karena ia sungguh adaptif dengan riuh dan gaduhnya alam. Tanaman ini tetap tumbuh dan tumbuh. Bersahaja ketika lapisan pasir lembut itu kering di musimnya. Dan selalu melibatgandakan tubuhnya saat panen air tiba.

Kampung nelayan Bonang tahun 1910 dalam foto kala itu, terlihat akses jalan yang cukup lebar. Jalanan itu tampak terkoneksi dengan kantong-kantong penghasil pangan lainnya. Tapak kaki mereka terlihat memberi penguat pola hubungan dengan kolompok lain yang begitu hangat. Mereka yang ada disini adalah pengendali ikan laut. Dan mereka yang diujung jalan sana, adalah pemulia benih. Tak lain adalah pemulia benih nan hijau dan menguning. Di penghujung jalanan inilah, mereka dihubungkan dengan pola transaksi yang natural. Mungkin juga mereka saling mengabarkan bagaimana menjadi pengendali ikan dan pemulia ragam tanaman. Mereka saling berbagi. Dipenghujung jalanan inilah, mereka manunggal. Manunggal antaraning wong mbelah lan wong tani.

Keterangan: foto diakses dari http://media-kitlv.library.leiden.edu/ pada tanggal 23 Maret 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *