Etika Mendaki Puncak Argopuro Lasem

Siapa yang tidak ingin melihat panorama alam dari puncak gunung. Lanscap yang sangat menarik, udara sejuk, suasana yang tenang, serta berburu indahnya sunset dan sunrise, kerapkali menjadi dambaan para pendaki. Bahkan ada yang meyakini, saat berada di puncak gunung, hati dan pikiran akan terasa bersih.

Untuk mendapatkan hal itu semua, para pendaki terkadang menggunakan aturan ketat saat mereka muncak. Puasa saat mendaki adalah salah satu etika lama, agar mereka mendapatkan manfaat baik saat muncak. Etika lama ini ternyata pernah digunakan para pendaki di Gunung Lasem tempo dulu, yaitu tepatnya di puncak Argopuro Lasem.

Suasana puncak Argopuro saat sunrise (doc. foto milik Suparmanto, 2018)

“Sekarang kalau ke sana tidak ada yang puasa. Dulu puasa satu hari, baru jam 12 malam baru makan,” tutur Suparmanto, Polhut RPH Sidowayah, Pancur, Rembang, Jawa Tengah.

Hal senada juga diceritakan masyarakat sekitar desa Ngroto dan desa Dadapan, bahwa hingga sekitar tahun 1982, masih banyak pendaki yang puasa ketika naik ke Puncak Argopuro. Tetapi pada saat ini, para pendaki jarang yang puasa saat mendaki puncak Argopuro.

“Saat saya masih SMP (sekolah), saya masih ingat puncak Argopuro masih rindang dan masih sejuk. Yang muncak biasane sangu degan karo kupat (biasanya membawa kelapa muda dan ketupat),” cerita Suparmanto dengan semangat.

Suparmanto, Polhut RPH Sidowayah, Pancur, Rembang, Jawa Tengah saat mendampingi pendaki muncak di Argopuro Lasem (doc. foto milik Suparmanto, 2018)

Ternyata jaman dahulu, terdapat etika mendaki di puncak Argopuro Lasem yang cukup ketat. Dengan orientasi mendapatkan hati dan pikiran yang bersih, para pendaki dalam kondisi puasa saat muncak. Bahkan tidak hanya itu. Minuman dan makanan pun di atur dengan ketat. Kelapa muda dan ketupat adalah jenis minuman dan makanan yang boleh dibawa saat mendaki puncak Argopuro. (shd/2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *