DASUN FESTIVAL 2018

PENDAHULUAN

Konon Dasun adalah sebuah desa tua yang berada di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Keberadaan Dasun ternyata sudah ada sejak zaman Kerajaan Pucangsulo, sebuah kerajaan kuno cikal bakal kerajaan-kerajaan di Jawa. Sejak abad ke 13, Dasun sudah menjadi pusat produksi kapal bagi Kerajaan Majapahit. Pembuatan kapal di Dasun diperuntukan bagi keperluan militer dan perdagangan. Pengawasan pembuatan kapal-kapal tersebut langsung dipimpin oleh Prabu Rajasa Wardana yang merupakan suami dari Bhre Lasem sendiri, yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Laut Majapahit.

 

Sejarah galangan kapal di Dasun tidak berhenti sampai di situ. Pada masa Kesultanan Demak, Galangan Kapal Dasun masih tetap eksis. Diduga berhasil menyelesaikan 100 kapal bagi Kesultanan Demak yang melakukan ekspedisi ke Malaka untuk melawan Portugis dipimpin langsung oleh Adipati Unus.  Pada zaman Hindia Belanda, Dasun semakin eksis dengan dibukanya sungai baru yang disodetkan dari Sungai Lasem yang dulunya bermuara di Kaeringan diubah ke Muara Dasun. Keberadaan Belanda di Dasun juga dibuktikan dengan peninggalan Bong Belanda atau Makam Belanda di sebelah selatan lapangan Dasun. Itulah Dasun, Desa bahari yang menyimpan sejarah yang begitu banyak. Muara Sungainya adalah saksi bisu masuknya Opium dari luar dan didistribusikan ke seluruh Nusantara. Dock-dock kapal yang masih tersisa juga merupakan saksi bagaimana keuletan dan terampilan penduduk membuat kapal-kapal yang mampu berlayar ke seluruh dunia.

Dengan melihat potensi-potensi di atas, Dasun menuju Desa Pusaka Bahari adalah sebuah keniscayaan. Karena di Dasun ada Peninggalan sejarah berupa dok dan galangan kapal, Sungai, Mangrove, Pantai, Tambak, Anco, Terasi, Bandeng, Rajungan, dan Penduduk nelayan menyatu menjadi sebuah harmoni desa pesisir yang elok.

Perkembangan globalisasi yang semakin keras mengharuskan masyarakat terutama pemuda-pemudi yang ada di daerah Rembang untuk bekerja lebih keras agar kebudayaan tidak tergerus oleh zaman. Kebudayaan lokal Oleh sebab itu pemuda Rembang harus memiliki jiwa cinta kepada daerahnya untuk meningkatkan budaya ataupun wisata yang ada di daerahnya.

Promosi wisata desa Dasun merupakan event seni dan kebudayaan yang melibatkan masyarakat, pecinta sejarah, seniman, pelajar dan mahasiswa, pecinta seni, budayawan dan komunitas lain yang ada di Kabupaten Rembang dengan didasari semangat dan tujuan untuk mempromosikan wisata Desa Dasun untuk mengangkat potensi wisata desa Dasun yang ada untuk menunjukkan bahwa ada potensi besar wisata di Desa Dasun Kecamatan Lasem.

TUJUAN

Tujuan Promosi Wisata Desa Dasun 2018 :

  1. Menjadi media bagi masyarakat untuk mengekspresikan ide-ide kreatifnya dalam mengapresiasikan nilai nilai kebudayaan dan kesenian lokal yang ada di Desa Dasun dan umumnya ada di Kabupaten Rembang dalam bentuk festival.
  2. Menjadi wahana edukasi bagi generasi muda dan masyarakat luas tentang kekayaan kebudayaan dan nilai-nilai sejarah yang ada di desa Dasun dan Kecamatan Lasem pada umumnya.
  3. Sebagai sarana bagi masyarakat dalam hal hiburan dan kesehatan yang di wujudkan dengan acara Jalan Sehat.
  4. Menjadi media untuk mempromosikan desa Dasun sebagai desa wisata dan kebudayaannya yang ada di Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang.

WAKTU PELAKSANAAN

Event Gelar Budaya dan Promo Wisata Desa Dasun ini direncanakan dilaksanakan pada tanggal 12-14 Agustus 2018, dengan rangkaian acara kegiatan selama 3 hari, dengan rincian sebagai berikut:

 

Hari Pertama, Minggu 12 Agustus 2018

*)Pembukaan

Acara pembukaan Gelar Budaya dan Promo Wisata Desa Dasun 2018 dilaksanakan di kawasan jalan Dasun, dengan acara pembukaan. Acara tersebut terdiri dari :

  1. Acara Pembukaan dilangsungkan pada 12 Agustus 2018 pukul 07.00 WIB
  2. Tempat acara ada di RTH (Ruang Terbuka Hijau) desa Dasun.
  3. Pembukaan dilakukan oleh Bupati Rembang beserta jajaran aparatur desa Dasun dan Panitia.
  4. Acara pembukaan ini sekaligus dengan dilaksanakannya agenda pertama yaitu Jalan Sehat.

*)Jalan Sehat

Acara pertama sekaligus pembukaan adalah Jalan Sehat yang diikuti oleh warga masyarakat yang ada. Jalan Sehat merupakan salah satu ajang untuk olahraga yang sederhana namun banyak sekali manfaatnya, dalam hal ini jalan sehat bertujuan untuk menyegarkan tubuh dan menyehatkan jasmani dan rohani, selain itu dalam agenda jalan sehat ini tidak serta merta hanya jalan sehat, hanya sehat ini juga bertujuan untuk ajang tempat berkumpulnya masyarakat Rembang, terkhusus pada Kecamatan Lasem dan desa Dasun.

Dalam acara jalan sehat ini juga bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan desa Dasun sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Rembang, hal ini tunjukkan dengan rute yang dilalui oleh peserta  jalan sehat yang melewati jalan desa Dasun dan melewati objek objek wisata dan sejarah desa Dasun.

Tujuan Jalan Sehat

  • Mempertemukan masyarakat dalam acara Jalan Sehat
  • Memperkenalkan wisata dan sejarah desa Dasun
  • Menjadi ajang untuk olahraga untuk menyehatkan kesehatan jasmani dan rohani peserta

Teknis Acara Jalan Sehat

  • Peserta jalan sehat berkumpul di titik start yang ada di RTH (Ruang Terbuka Hijau) desa Dasun pada pukul 06.00 WIB.
  • Peserta menukarkan kaos di loket penukaran kaos untuk mendapatkan kaos dengan menunjukkan tiket yang telah di dapatkan peserta sebelumnya.
  • Peserta memakai kaos jalan sehat yang telah didapatkan.
  • Peserta bersiap dan telah selesai memakai kaos pada pukul 07.30 untuk bersiap memulai acara.
  • Jalan sehat dimulai pada pukul 07.30.
  • Peserta jalan sehat akan melewati rute yang telah di tentukan panitia.
  • Panitia telah menyiapkan 5 titik poin.
  • Peserta jalan sehat juga mendapatkan penjelasan singkat dari narasumber tentang sejarah dan kebudayaan pada titik poin tersebut, setiap titik poin akan mendapatkan penjelasan tentang sejarah dan kebudayaan.
  • Peserta menuju tempat finish Jalan Sehat di RTH desa Dasun.
  • Peserta akan disambut dengan hiburan band dan sekaligus pengundiaan doorprize ketika finish.

*)Lomba Memancing

Acara lomba memancing merupakan sarana promosi untuk mengenalkan bahwa Desa Dasun sangat ramah terhadap wisata pemancingan. Lomba memancing akan dilakukan secara terbuka untuk umum. Lomba ini dilaksanakan pada Hari Minggu, 12 Agustus 2018 pukul 14.00 WIB  di Tambak Kompleks RTH Dasun, Lasem, Rembang dengan pendaftaran peserta secara on the spot. Ketentuannya:

  • Peserta membayar biaya pendaftaran sebesar Rp.25.000,-
  • Peserta dapat membawa jorang sendiri dengan jumlah kail wajib Satu
  • Tangkapan mancing dapat dibawa pulang
  • Pemenang adalah peserta yang dapat memancing ikan dengan berat total terbanyak
  • Akan dipilih 4 pemenang diantaranya Juara I, II, III, dan Juara Favorit
  • Juara I akan mendapatkan Rp. 700.000,-
  • Juara II akan mendapatkan Rp. 500.000,-
  • Juara III akan mendapatkan Rp. 300.000,-
  • Juara Favorit akan mendapatkan Rp. 500.000,-
  • Juara Favorit adalah pemancing dengan tangkapan tercepat.

 

Hari Kedua, Senin 13 Agustus 2018

*)Pentas Seni Melayu OM MANHATTAN

  • Pentas seni melayu mulai pukul 13.00 – selesai.
  • Bertempat di Lapangan Desa Dasun
  • Bintang tamu Pentas Seni Melayu dari ‘OM MANHATTAN”
  • Sumber dananya dari Swadaya Desa

*)Diskusi Budaya

Melihat budaya yang ada di Kabupaten Rembang, terkhusus di Jawa Tengah, panitia akan menyelenggarakan diskusi budaya, diskusi budaya ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang budaya yang ada di Kabupaten Rembang terkhusus dengan Kecamatan Lasem dan desa Dasun, diskusi budaya akan diikuti oleh budayawan dan sejarawan yang ada di Kabupaten Rembang.

Teknis Acara Diskusi Budaya

  • Diskusi budaya akan dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB bertempat di RTH desa Dasun.
  • Diskusi budaya akan membahas tentang budaya yang ada di Kabupaten Rembang terkhusus Kecamatan Lasem dan desa Dasun.
  • Diskusi budaya ini akan mengundang para sejarawan dan budayawan yang ada di Kabupaten Rembang.
  • Diskusi budaya selesai pada pukul 21.00 WIB.

*)Pagelaran Wayang Kulit

Mengenal kebudayaan Jawa tidak akan terlepas dari mengenal seni tradisional wayang kulit yang masih digemari hingga sekarang. Sesuai dengan namanya, wayang kulit terbuat dari kulit binatang (kerbau, lembu atau kambing). Secara sejarah, wayang kulit terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.

Wayang kulit adalah seni pertunjukan yang telah berusia lebih dari setengah milenium. Kemunculannya memiliki cerita tersendiri, terkait dengan masuknya Islam Jawa. Salah satu anggota Wali Songo menciptakannya dengan mengadopsi Wayang Beber yang berkembang pada masa kejayaan Hindu-Budha. Adopsi itu dilakukan karena wayang terlanjur lekat dengan orang Jawa sehingga menjadi media yang tepat untuk dakwah menyebarkan Islam, sementara agama Islam melarang bentuk seni rupa. Alhasil, diciptakan wayang kulit dimana orang hanya bisa melihat bayangan. Setiap pagelaran wayang menghadirkan kisah atau lakon yang berbeda. Ragam lakon terbagi menjadi 4 kategori yaitu lakon pakem, lakon carangan, lakon gubahan dan lakon karangan. Lakon pakem memiliki cerita yang seluruhnya bersumber pada perpustakaan wayang sedangkan pada lakon carangan hanya garis besarnya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang. Lakon gubahan tidak bersumber pada cerita pewayangan tetapi memakai tempat-tempat yang sesuai pada perpustakaan wayang, sedangkan lakon karangan sepenuhnya bersifat lepas.

Cerita wayang bersumber pada beberapa kitab tua misalnya Ramayana, Mahabharata, Pustaka Raja Purwa dan Purwakanda. Kini, juga terdapat buku-buku yang memuat lakon gubahan dan karangan yang selama ratusan tahun telah disukai masyarakat Abimanyu kerem, Doraweca, Suryatmaja Maling dan sebagainya. Diantara semua kitab tua yang dipakai, Kitab Purwakanda adalah yang paling sering digunakan oleh dalang-dalang dari Kraton Yogyakarta. Pagelaran wayang kulit dimulai ketika sang dalang telah mengeluarkan gunungan. Wayang kulit dipakai untuk memperagakan lakon-lakon dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana, dan itu sebabnya juga sering disebut Wayang Purwa. Dalam pertunjukan wayang kulit, jumlah adegan dalam satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau tergantung dalangnya.

Mengingat betapa kayanya sejarah dan budaya wayang kulit yang mengandung banyak nilai, maka panitia akan melaksanakan pagelaran wayang kulit dengan Dalang Ki Sigit.

Teknis Acara Pagelaran Wayang Kulit

  • Pagelaran Wayang kulit akan dilaksanakan pada pukul 21.00 WIB sampai dengan selesai.
  • Pegelaran Wayang kulit dengan menghadirkan dalang Ki Sigit.
  • Pagelaran Wayang kulit ini akan menghadirkan para tamu undangan yang meliputi jajaran pejabat dan dinas terkait di Kabupaten Rembang serta para aparatur desa dan masyarakat pada umumnya.
  • Pagelaran Wayang kulit ini sekaligus menjadi penutup rangkaian acara Pagelaran Budaya dan Promosi Wisata Desa Dasun Tahun 2018.

 

 

Hari Ketiga, Selasa 14 Agustus 2018

*)Grebeg Dumbeg

Dumbeg adalah makanan ringan khas Rembang  yang bisa menjadi oleh-oleh saat wisata di kawasan pesisir Jawa Tengah. Rasanya yang manis legit menyimpan sejarah tersendiri. Dumbeg terbuat dari tepung beras, kelapa dan gula dibalut dengan daun lontar dari pohon Siwalan. Makanan ini termasuk jenis jajanan pasar, sebuah tradisi kuliner kuno yang perlu dilestarikan.

Sejarah makanan dumbeg

Pada abad ke-15 hingga 16, Pulau Jawa bagian pesisir utara menjadi salah satu sasaran dakwah para wali. Sebab, kawasan pantura sangat strategis sebagai pusat perdagangan, jalur diplomasi internasional melalui maritime, konon sejarah makanan dumbeg menjadi salah satu camilan favorit para wali. Dumbeg kerapkali menjadi sajian atau suguhan untuk tamu yang datang ke rumah. Dalam acara tradisi “sedekah bumi dan/atau sedekah laut”, dumbeg biasa menghiasi salah satu kelengkapan makanan tradisional di Kabupaten Rembang. Tak sekadar camilan yang enak, manis dan legit, dumbeg ternyata memiliki arti, makna dan filosofi yang tinggi. Edi Winarno, salah seorang budayawan asal Rembang mengungkapkan, makanan dumbeg adalah simbol dari kesuburan.

Dumbeg adalah simbol atau lambang laki-laki, disebut juga lingga. Dalam tradisi Jawa kuno, pasangan dumbeg adalah jadah atau ketan yang menjadi simbol perempuan. Dengan demikian, kedua makanan tradisional tersebut melambangkan suatu kesuburan, tonggak dari peradaban manusia.

Sehubungan dengan hal tersebut panitia Gelar Budaya dan Promosi wisata desa Dasun 2018 akan mengadakan acara Grebeg Dumbeg sebagai simbol rasa syukur atas segala limpahan karuna Tuhan yang telah diberikan kepada masyarakat di Kabupaten Rembang.

Teknis Acara Grebeg Dumbeg

  • Acara Grebeg Dumbeg dilaksanakan pada pukul 14.00 WIB, dengan titik start di depan Klenteng Chu An Kiong Lasem.
  • Gunungan Dumbeg dan ketan sejumlah 1.000 dumbeg telah di sispkan panitia dan dihias sesuai dengan tradisi Grebeg Dumbeg.
  • Gunungan Dumbeg dan ketan terdiri atas dumbeg Inti dan beberapa Gunungan Dumbeg pengiring dari berbagai desa se-Kecamatan Lasem.
  • Gunungan Dumbeg dan ketan selanjutnya akan diarak dari titik start menuju ke titik finish yaitu di RTH desa Dasun
  • Selama perjalanan Grebeg Dumbeg, akan ada berbagai iringan seperti drumband, tongtongklek dan sebagainya yang berasal dari desa se-Kecamatan Lasem.
  • Setelah sampai titik finish, dumbeg dan ketan akan di perebutkan oleh semua masyarakat yang hadir pada acara tersebut untuk dimakan bersama.

 

Hari Ke-Empat, Rabu 15 Agustus 2018

*)Larung Sesaji

Teknis Acara Larung Sesaji

  • Acara Larung sesaji di mulai pukul 09.00 WIB
  • Start di Dermaga sampai Laut Pulau Gosong.
  • Sumber dana dari Swadaya Desa

*)Pagelaran Seni Ketoprak

Teknis Acara Ketoprak

  • Dilaksanakan pada pukul 13.00 WIB sampai Selesai.
  • Bertempat di RTH desa Dasun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.