Potensi Dasun dalam Mengembangkan Kawasan Sentra Replika Kapal Indonesia

wartarembang.com-Desa Dasun Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang merupakan sebuah desa yang memiliki banyak potensi. Keutamaan potensi di Desa Dasun adalah keindahan alamnya yang berupa sungai, pantai, pohon mangrove, bentangan sawah, tambak, dan masih banyak lagi. Selain alam, ada potensi budaya dan kesejarahan di Desa Dasun, yakni situs galangan kapal peninggalan Belanda dan Jepang. Konon, galangan kapal di Desa Dasun sudah ada sejak era Kerajaan Majapahit. Nah, Potensi alam dan budaya di Desa Dasun ini harus terus dirawat, dilestarikan untuk meningkatkan daya tarik Desa Dasun kepada masyarakat umum untuk belajar maupun berwisata.

Kondisi geografis Desa Dasun yang berada di daerah pesisir Lasem, membuat masyarakat Desa Dasun sebagian menjadi nelayan. Jika kita lihat dari sejarah masyarakatnya, hal ini menyebabkan banyak masyarakat Desa Dasun mempunyai kapal atau perahu dan menjadikan itu sebagai alat utama untuk bekerja sebagai nelayan.  Banyak perahu-perahu nelayan Dasun yang bersandar di tambatan perahu Sungai Dasun.

Desa Dasun memiliki potensi sungai yang luas dan panjang. Di sungai inilah biasanya para nelayan menyandarkan perahunya. Ada juga masyarakat yang mempunyai anco (sebuah alat yang dibuat dari bahan yang mudah ditemukan yaitu bambu) yang dipasang di tepi Sungai Dasun digunakan untuk menangkap ikan.

Salah satu potensi Desa dasun adalah keberadaan Sungai Dasun-Lasem yang memiliki pemandangan yang indah (dok: penulis, 2018)

Memuliakan Sampah dengan Replika Kapal

Keindahan Sungai Dasun terganjal dengan keberadaan sampah kiriman dari daerah hulu sungai.  Sampah yang banyak ditemukan di sungai diantaranya adalah plastik, sandal, karet, kayu sampai dedaunan. Keberadaan sampah yang tidak semestinya di Sungai Dasun ini ternyata juga berpotensi membawa berkah bagi Desa Dasun. Mengetahui hal ini, tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Pamotan mempunyai sebuah ide untuk memanfaatkan limbah sungai tersebut–yang berupa sandal bekas, karet dan kayu–untuk dibuat sebuah replika kapal. Sebuah kerajinan yang tentunya mencirikan Desa Dasun sebagai desa bahari yang lestari.

Kebetulan di Desa Dasun ada dua orang nelayan yang handal untuk membuat replika kapal yaitu Tri Murti (27 tahun) dan Nanang Prasetyo (28 tahun). Kali ini nelayan yang akan mendampingi TIM KIR SMAN 1 Pamotan untuk membuat replika kapal adalah Tri Murti. Selain handal membuat replika kapal, Tri Murti juga handal merancang rumah-rumahan sejaji saat tradisi sedekah laut di Desa Dasun bersama nelayan Dasun lainnya.

Proses pembuatan replika kapal dengan memanfaatkan sandal, karet dan kayu bekas (dok: penulis, 2018)

Wisata Bahari Dasun berbasis Konservsi dan Edukasi

Semua potensi yang dimiliki Desa Dasun, menjadikan desa ini sebagai tempat wisata bahari seperti susur sungai, wisata di pantai, menimati keindahan mangrove, budidaya bandeng, belajar membuat garam, eksplore Pulau Gosong, dll. Dasun sesungguhnya sudah ada wisata bahari, namun belum ada oleh- oleh khas bahari yang dapat dibeli oleh para wisatawan, dan dengan adanya usaha pembuatan replika kapal, diharapkan dapat menarik para wisatawan lokal,  maupun luar negeri untuk berkunjung dan membawa pulang oleh-oleh khas bahari Desa Dasun, nantinya bisa menambah ragam.

Bahan replika kapal berupa sandal bekas, karet dan kayu bekas yang dapat mudah ditemukan di Sungai Dasun (dok: penulis, 2018)

Tim KIR SMAN 1 Pamotan mempunyai sebuah rencana teknis untuk membantu Desa Dasun menjadi sebuah kawasan sentra replika kapal Indonesia. Pertama, mengidentifikasi potensi yang ada di Desa Dasun. Kedua, pasca mengidentifikasi potensi yang dimiliki Desa Dasun, tim membuat sebuah replika kapal dengan memanfaatkan potensi yang ada di Desa Dasun yaitu hasil ekologi yang berupa bambu, dan sampah-sampah yang ada di sekitar Sungai Dasun–berupa sandal jepit dan karet. Ketiga, menawarkan produk replika kapal dengan kegiatan-kegiatan promosi awal. Dengan itu didapat respon masyarakat, apakah itu positif dengan ditandainya masyarakat tertarik dan membeli produk replika kapal atau respon negatif, masyarakat tak tertarik dan tidak membeli.

Pohon bambu yang berada di pinggir sungai (dok: penulis, 2018)

Keempat, membuat komunitas untuk pelatihan memproduksi replika kapal kepada masyarakat dengan mendatangkan para ahli pengrajin untuk mengajari masyarakat membuat replika kapal. Kelima, yaitu menentukan tempat sentra replika kapal Indonesia yaitu dekat sungai dengan pertimbangan bahwa di dekat sungai ada anco yang besar dan tinggi dan menarik. Selain digunakan untuk mengambil ikan, anco juga bisa digunakan untuk melihat pemandangan sungai yang indah dari atas serta untuk melihat para nelayan yang sedang bekerja. Selain terdapat anco, di pinggir Sungai Dasuncjuga ada gazebo atau cangkruk untuk duduk -duduk santai. Selain itu, di dekat Sungai Dasun ada rumah masyarakat, jika di tempat ini jadi digunakan sebagai tempat sentra replika kapal maka warga dapat berjualan sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat.

Anco yang ada di pinggir Sungai Dasun (dok: Penulis, 2018)

Akses jalan menuju Sentra Replika Kapal di Sungai Dasun sangat strategis, dekat dengan pusat keramaian Desa Dasun yakni RTH Dasun. Sehingga para wisatawan nyaman untuk datang ke tempat ini. Selain itu, dengan adanya para wisatawan yang bekunjung dapat menyadarkan masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai. Karena etika kedatangan tamu maka tuan rumah akan membersihkan rumah dan lingkungannya. Keenam, mempromosikan replika kapal dengan membuat sebuah galeri replika kapal Indonesia. Dengan cara membuat event dengan pemasangan poster di depan galeri dan event akan diisi dengan beberapa acara–seperti penayangan film pembuatan replika kapal, lomba replika kapal, parade eplika kapal, larung replika kapal, dan setelah itu jual beli replika kapal. Jadi, setelah tahap demi tahap proses ini selesai, diharapkan masyarakat dapat mandiri untuk membuat sebuah usaha pembuatan replika kapal serta dapat memasarkannya sehingga dapat melestarikan budaya bahari serta menambah penghasilan masyarakat.

Refleksi

Sampah bila dibiarkan dibuang sembarangan akan mendatangkan penyakit, namun jika sampah diolah oleh tangan-tangan trampil dan kreatif, sampah akan semakin mulia menghasilkan kebaikan, baik itu uang maupun kebersihan lingkungan. Seperti halnya pembuatan replika kapal yang terbuat dari sandal, karet, dan kayu papan bekas dari Sungai Dasun bisa mendapatkan tambahan penghasilan masyarakat, mengurangi sampah yang ada dan dapat tetap menjaga kelestarian lingkungan. Semoga usaha pembuatan replika kapal ini menjadi satu dari jutaan kebaikan bagi seluruh semesta.

Penulis:

Maliya Anas, Tim Karya Tulis Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 1 Pamotan.

Editor:

Exsan Ali setyonugroho

Penulis Maliya Anas, 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.