Mengenal Gunung Lasem

Menurut cerita masyarakat yang berkembang di desa Ngroto dan dukun Siwalan Sukun desa Dadapan, Gunung Lasem pada awal mulanya adalah pegunungan milik warga. Namun sejak tahun 1926, gunung yang memiliki ketinggian 806 meter dpl ini dilakukan penutupan lahan setelah ditetapkan Belanda menjadi kawasan hutan lindung.

Proses perubahan dari tanah gunung milik warga menjadi hutan lindung ini, yaitu dengan cara melalui pembelian.

“Pada saat itu Belanda tidak serta merta meminta paksa, tetapi diganti rugi. Sejak itulah, penutupan lahan dimulai”, ungkap Suparmanto, Polhut RPH Sidowayah, Pancur, Rembang, Jawa Tengah.

Menurut Suparmanto, lanscap Gunung Lasem terbagi menjadi dua bagian, yaitu sebelah utara terletak di petak 12, dan sebelah selatan terletak di petak 21. Pemetaan Gunung Lasem ini dilakukan Belanda sejak tahun 1931.

“Pada masa pemerintahan Belanda, Gunung Lasem ini masuk dalam dua kawasan kawedanan, yaitu kawedanan Kragan dan kawedaanan Lasem. Kawedanan Kragan meliputi Sarang, Sedan, dan Kragan. Selanjutnya pada kawedanan Lasem meliputi Pancur, Lasem, dan Sluke,” tegas Suparmanto.

Bagian Gunung Lasem mulai dari kawasan Makamdowo ke bawah hingga ke Sungai Jratun DAS Kesambi, adalah tanah hutan miliknya masyarakat Siwalan Sukun dan masyarakat Dadapan. Adapun kawasan puncak Gunung Lasem ke bawah sampai Sungai Ngroto, adalah tanah hutan milik orang Ngroto dan Ceriwik wilayah pancur.

Pasca dijadikan kasawan hutan lindung, Gunung Lasem kemudian mulai ditanami tanaman keras, diantaranya tanaman Segawe, Mahoni, Sono, Juwar, Cendono, dan Kesambi. Berbeda dengan sebelumnya, sebelum ditetapkan menjadi Hutan Lindung, kawasan Gunung Lasem adalah tanah pertanian lahan produktif milik warga setempat yang dahulu di tanami padi dan jagung, sebagai langkah kemandirian pangan. (shd/2018)

Informasi lokasi , Googlemap: https://goo.gl/maps/MKwF1EP2uaK2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *