Desa Pondokrejo, Desa Pelestari Rumah Joglo

wartarembang.com-Ratusan rumah adat Jawa Tengah, joglo, masih terus lestari di salah satu kampung di Kabupaten Rembang, tepatnya di Desa Pondokrejo Kecamatan Bulu.

Warga di desa tersebut bahkan tidak terpengaruh oleh kemajuan zaman yang seolah mengagungkan rumah tembok.

Salah seorang tokoh sepuh pelestari joglo di Desa Pondokrejo Muhammad Soim menceritakan tradisi turun temurun warganya yang selalu membuat joglo ketika membangun rumah baru.

Dahulu, joglo dibuat dengan kayu dari hutan belantara, bahkan dari kayu yang telah bertahun-tahun tertimbun tanah.

Kini, warga tidak melulu mengandalkan kayu dari hutan karena sudah menipis. Mereka memiliki cadangan hutan jati yang ditanam sendiri di lahan tegalan. Menurutnya, paling sedikit butuh biaya Rp50juta untuk mendirikan satu rumah joglo.

Rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019

“Saya ini juga menghuni rumah joglo warisan ayah sejak tahun 1940,” ujarnya.

Soim mengisahkan, dipilihnya rumah joglo ketimbang rumah tembok antara lain karena struktur tanah di desanya yang disebut “gerak”. Selain itu, warga menganggap rumah joglo gampang diwariskan.

“Bahkan, warga yang memiliki anak yang hendak menikah, hampir selalu sudah disiapi rumah joglo,” terangnya.

Terlepas dari alasan teknis dan sosial itu, warga juga menginginkan agar desanya terus menjadi pelestari rumah joglo di Kabupaten Rembang. Saat ini, di desa tersebut, banyak rumah joglo yang sudah berumur ratusan tahun, meski rata-rata puluhan tahun.

“Warga tidak malu dibilang kuno gara-gara enggan membangun rumah tembok dan memilih rumah joglo. Justru banyak warga dari kampung lain yang bangga dengan semangat warga desanya dalam melestarikan rumah adat Jawa ini,” tegasnya.

Sumaji, Kepala Desa Pondokrejo menyebutkan, kira-kira 300 dari 470 rumah warganya merupakan rumah joglo, sedangkan sisanya adalah rumah limasan dan tembok.

Rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019

“Memang ada spirit dari warga yang menginginkan agar rumah joglo tetap lestari,” katanya.

Menurutnya, jumlah rumah joglo di desanya hampir selalu bertambah tiap tahun. “Soal kemungkinan warga tergoda kolektor, sehingga menjual joglonya, hal itu mungkin terjadi,” katanya.

Tetapi berdasarkan pengalaman, hanya rumah yang sudah mendekati pelapukan parah yang dijual. Selebihnya masih dipertahankan. Buktinya, rumah yang berumur ratusan tahun, masih bertahan sampai sekarang.

“Sejauh ini hanya satu joglo yakni balai desa yang menjadi benda cagar budaya. Tetapi sudah mulai rusak, sehingga perlu perawatan,” pungkasnya.

sumber : http://pondokrejo-rembang.sideka.id

Rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019
Rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019
Aktivitas masyarakat di rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019
MAsjid berbentuk atap tumpang di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019
Rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019
Rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019
Rumah-rumah joglo di Desa Pondokrejo, Bulu, Rembang foto : Agik NS, 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.